Informasikasus.com|PALABUHANRATU - Pemerintah Desa Cimanggu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menggelar kegiatan skrining atau pemeriksaan dini penyakit Tuberkulosis (TB) Paru yang bertempat di Aula Kantor Desa Cimanggu, Senin (27 April 2026).
Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Puskesmas Palabuhanratu dan melibatkan para kader kesehatan yang sudah ditugaskan.
Berbeda dengan pemeriksaan umum, kegiatan kali ini dikhususkan bagi keluarga, tetangga, maupun orang-orang yang berada di sekitaran warga yang sudah terdeteksi mengidap penyakit TB Paru.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi dan pemutusan mata rantai penyebaran penyakit tersebut. Jika dalam skrining ditemukan kasus baru, maka akan segera ditindaklanjuti dengan program pengobatan lanjutan secara gratis dan teratur.
Tidak hanya tenaga medis umum, kegiatan ini juga melibatkan langsung Dokter Spesialis TB Paru dari Puskesmas Palabuhanratu untuk memastikan pemeriksaan berjalan akurat dan profesional.
Sekretaris Desa (Sekdes) Cimanggu, Ijal Supriatna, menerangkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda perdana yang dilaksanakan di desanya.
"Kegiatan screening kali ini adalah yang pertama kalinya. Awalnya memang difokuskan untuk keluarga yang sudah terdeteksi mengidap TB Paru berdasarkan kuota yang ada," ujar Ijal.
Namun, Pemerintah Desa bersikap sangat terbuka demi kesehatan masyarakat luas.
Ijal menambahkan, meski ada target kuota utama, pihaknya tidak menutup diri.Namun jika ada masyarakat lain di wilayah Desa Cimanggu yang merasa perlu dan ingin ikut screening juga, pihak kami sangat terbuka dan siap melayani.
"Kita sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas, bahwa selama masih di waktu dan tempat kegiatan yang sama, masyarakat lain tetap bisa diperiksa," tambahnya.
Lebih jauh, Ijal menenangkan masyarakat dengan menegaskan bahwa penyakit TB Paru sebenarnya adalah penyakit yang bisa disembuhkan.
"Pada dasarnya penyakit TB Paru ini bisa diobati, meskipun tentunya memerlukan waktu dan proses pengobatan secara bertahap. Proses penyembuhannya ada yang memakan waktu sekitar 3 bulan, namun ada juga yang memerlukan pengobatan rutin hingga 6 bulan lamanya tergantung kondisi masing-masing," pungkasnya.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya deteksi dini, sehingga penularan bisa dicegah dan penderita bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat.
(Dimas)

